BOJONEGORO,- Sebuah lembaga pendidikan tidak lahir hanya dari bangunan dan ruang-ruang kelas. Di baliknya, ada doa yang panjang, pengorbanan yang tak selalu tercatat, dan pengabdian orang-orang yang namanya mungkin perlahan menjauh dari ingatan generasi penerus.
Di Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, keluarga besar Yayasan Walisongo Annahdliyah berupaya merawat ingatan itu melalui peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Selama tiga hari, Kamis–Sabtu (22–24 Oktober 2026), mereka menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk “Santri Bakti kepada Pendiri Bangsa, Jam’iyah NU, dan Muasis Yayasan.”
Peringatan itu tidak berhenti pada upacara, seremonial, atau perayaan tahunan. Melalui upacara Hari Santri, tahlil akbar, hingga ziarah ke makam para pendiri dan penggerak yayasan, keluarga besar Walisongo berusaha menghubungkan pendidikan dengan sejarah, tradisi keagamaan dengan keteladanan, serta generasi hari ini dengan mereka yang lebih dahulu meletakkan fondasi perjuangan. Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan lingkungan pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo Annahdliyah, meliputi Kelompok Bermain (KB) Walisongo, TK Muslimat NU Nurul Ummah 28 Sumberrejo, Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo, baik kelas Unggulan maupun Excellent, serta SMP NU Model Sumberrejo.
Ketua pelaksana kegiatan, Ustaz Zainal Putra Nafi, menyebut jumlah peserta yang terlibat selama tiga hari mencapai tidak kurang dari 1.150 orang. “Jumlah peserta kegiatan selama tiga hari berturut-turut ini tidak kurang dari 1.150 orang,” kata Zainal.
Angka itu menggambarkan luasnya keterlibatan keluarga besar lembaga, mulai dari peserta didik, asatidz, pengurus yayasan, wali santri, hingga warga Nahdliyin. Di tengah perubahan zaman, peringatan Hari Santri menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali nilai yang diwariskan pesantren: ilmu, adab, perjuangan, dan khidmah.
Kamis pagi, 22 Oktober 2026, rangkaian peringatan dimulai dengan keikutsertaan keluarga besar Yayasan Walisongo Annahdliyah dalam upacara Hari Santri Nasional tingkat Kecamatan Sumberrejo. Kegiatan itu diselenggarakan bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Sumberrejo dan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspimcam). Unsur pemerintah kecamatan, kepolisian, Tentara Nasional Indonesia melalui Komando Rayon Militer Sumberrejo, serta jajaran pimpinan kecamatan lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sejak pukul 06.00 WIB, lapangan yayasan mulai dipadati peserta. Rombongan dari berbagai badan otonom NU dan unsur masyarakat berdatangan, sementara panitia mempersiapkan pelaksanaan upacara. Kepadatan lalu lintas dan gladi bersih menjadi bagian dari dinamika pagi itu.
Di lapangan, para santri Walisongo berdiri berdampingan dengan peserta dari Pagar Nusa, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, Muslimat NU, serta pengurus ranting NU se-Kecamatan Sumberrejo. Pemandangan itu memperlihatkan bahwa Hari Santri bukan semata-mata milik mereka yang tinggal di pesantren. Ia juga menjadi ruang perjumpaan berbagai generasi dan unsur masyarakat yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Keterlibatan siswa MINU Walisongo dan SMP NU Model memberikan dimensi pendidikan tersendiri. Mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta upacara, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan kehidupan berorganisasi.
Sejumlah siswa yang tergabung dalam Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU bahkan mendapat tugas sebagai pengibar bendera pusaka. Tugas tersebut menjadi pengalaman penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus penghormatan terhadap simbol-simbol kebangsaan.Di lapangan itu, nilai kesantrian bertemu dengan semangat kebangsaan. Para siswa belajar bahwa kecintaan terhadap tradisi keagamaan tidak terpisah dari tanggung jawab sebagai warga negara. Hari Santri, dengan demikian, tidak hanya mengajak generasi muda mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga mendorong mereka mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Jika hari pertama mengajak santri menengok hubungan antara agama dan kebangsaan, hari kedua membawa mereka lebih dekat kepada sejarah lembaganya sendiri. Jumat pagi, 23 Oktober 2026, keluarga besar Yayasan Walisongo Annahdliyah menggelar tahlil akbar untuk mendoakan para muasis, yakni para pendiri dan perintis yayasan. Kegiatan berlangsung pukul 06.30–07.30 WIB dan diikuti peserta didik dari KB Walisongo, TK Muslimat NU Nurul Ummah 28, MINU Walisongo, serta SMP NU Model. Para asatidz, pengurus yayasan, dan sejumlah perwakilan wali santri turut mengikuti doa bersama. Lantunan tahlil memenuhi kompleks pendidikan, menghadirkan suasana khidmat di tengah aktivitas belajar yang sehari-hari berlangsung di tempat itu.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk mengenali sisi lain dari dunia pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran, mengerjakan tugas, atau mengejar prestasi. Di balik keberadaannya, ada orang-orang yang pernah berjuang agar generasi berikutnya memperoleh kesempatan belajar. Kepala TK Muslimat NU Nurul Ummah 28 yang juga menjadi bagian dari panitia pelaksana, Ustazah Nunung, menjelaskan bahwa kegiatan itu dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter peserta didik.
“Kegiatan ini dalam rangka mentarbiyah anak didik atau santri agar senantiasa mengingat pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat, agar nama tetap hidup meskipun jasad terkubur tanah,” ujarnya.
Pesan tersebut menyentuh salah satu tujuan mendasar pendidikan: membentuk manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga meninggalkan manfaat bagi sesamanya. Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, penghormatan kepada pendahulu bukan sekadar upaya mengenang masa lalu. Ia juga merupakan cara meneruskan nilai dan perjuangan yang telah dirintis. Nama seseorang mungkin tidak lagi disebut setiap hari, tetapi manfaat dari pengabdiannya dapat terus dirasakan oleh generasi yang datang kemudian. Melalui tahlil akbar, para santri diperkenalkan pada kesadaran bahwa lembaga pendidikan yang mereka tempati hari ini merupakan hasil perjalanan panjang. Ada ikhtiar, pengorbanan, dan doa yang mendahului kehadiran mereka di ruang kelas.
Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Santri di Walisongo. Sekitar 70 asatidz dari seluruh unit pendidikan di bawah Yayasan Walisongo Annahdliyah bersama pengurus yayasan melaksanakan ziarah muasis. Dengan menggunakan empat kendaraan modifikasi, rombongan menyusuri sejumlah kompleks pemakaman yang menyimpan jejak sejarah pendirian dan perkembangan yayasan. Perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah dari satu makam ke makam lain. Setiap persinggahan menjadi kesempatan untuk mengenang tokoh-tokoh yang pernah menyumbangkan tenaga, pikiran, dukungan, maupun sumber daya bagi keberlangsungan lembaga pendidikan Walisongo.
Persinggahan pertama dilakukan di Kompleks Pemakaman Sumuragung, kawasan Telkom, untuk menziarahi makam H. Mansyur beserta keluarga. Almarhum dikenang sebagai salah satu pendiri dan penggagas ikhtiar awal pendirian yayasan, sekaligus penyokong pendanaan pada periode pertama perjuangan lembaga. Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan bersilaturahmi ke kediaman dzurriyah atau keluarga keturunan H. Mansyur. Sambutan dan jamuan keluarga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sekaligus menyampaikan penghormatan atas dukungan yang telah diberikan kepada yayasan.
Dari Sumuragung, rombongan bergerak menuju Kompleks Pemakaman Ngenden. Di sana, mereka menziarahi makam Mbah Diro, sosok yang dikenang atas jasanya membantu proses penyelesaian akses tanah yayasan. Peran tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan awal lembaga. Sebab, perkembangan sebuah institusi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh gagasan para pendirinya, tetapi juga oleh dukungan banyak pihak yang membantu mewujudkan gagasan itu menjadi kenyataan.
Doa yang dipanjatkan di makam Mbah Diro menjadi ungkapan penghormatan kepada orang yang sumbangsihnya ikut membuka jalan bagi keberlangsungan pendidikan Walisongo. Persinggahan ketiga berlangsung di Kompleks Pemakaman Jombok, Sumberrejo. Rombongan berziarah ke makam Ibu Hj. Sri Werdariningsih, yang pernah menjabat sebagai kepala TK Muslimat, serta Ainaul Lathifah, rekan asatidz MINU Walisongo. Kehadiran dua nama tersebut memperluas makna ziarah. Sejarah lembaga pendidikan tidak hanya dibangun oleh para pendiri dan penyokong dana, tetapi juga oleh para pendidik yang setiap hari bekerja mendampingi anak-anak, menanamkan pengetahuan, serta membentuk karakter generasi penerus.
Dedikasi para guru kerap berlangsung dalam kesederhanaan. Namun, melalui proses pendidikan yang panjang, pengabdian mereka ikut menentukan arah masa depan sebuah lembaga. Dari Jombok, perjalanan berlanjut ke Kompleks Pemakaman Tlumbung, Sumberrejo. Di tempat ini, rombongan menziarahi makam KH. Mashuri beserta keluarga, H. A. Rozik beserta keluarga, H. Widji beserta keluarga, dan Bapak Ahyat, yang dikenang sebagai bagian dari tokoh penggerak yayasan. Di setiap kompleks pemakaman yang dikunjungi, rombongan membaca tahlil dan doa yang dipandu Ustaz Junaidi. Lantunan doa menjadi pengikat perjalanan sekaligus sarana merawat ingatan kolektif terhadap mereka yang telah mendahului.
Di Tlumbung, keluarga atau dzurriyah H. Widji juga memberikan bingkisan kepada rombongan asatidz. Pemberian tersebut menambah kehangatan silaturahmi antara keluarga para pendahulu dan generasi penerus yang kini meneruskan perjuangan di bidang pendidikan. Perjalanan kemudian mencapai persinggahan kelima, yakni Kompleks Pemakaman Sumberrejo yang terletak di depan Rumah Sakit Islam Sumberrejo. Di lokasi ini, rombongan menziarahi makam H. Fauzan dan Hj. Muzayanah, pasangan suami istri yang dikenang atas sumbangsih besar mereka dalam pembangunan awal yayasan beserta kompleks lembaga pendidikan di dalamnya.
Rombongan juga mendoakan Ibu H. Listari, istri H. Suparno, Ketua Pembina Yayasan yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum PCNU Kabupaten Bojonegoro.
Seusai doa bersama, keluarga dzurriyah H. Fauzan dan Hj. Muzayanah menyambut rombongan di kediaman mereka. Jamuan tersebut menjadi penutup rangkaian silaturahmi yang mempertemukan keluarga para muasis dengan keluarga besar yayasan. Rombongan kemudian kembali ke kompleks Yayasan Walisongo Annahdliyah. Seluruh rangkaian ziarah berakhir pada pukul 13.07 WIB.
Di penghujung perjalanan, Ketua Yayasan Walisongo Annahdliyah, Kiai Abdullah Afif, menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga ketulusan dalam pengabdian. Menurut dia, khidmah tidak semestinya dibatasi oleh jam pelajaran atau kegiatan formal di ruang kelas. Pengabdian merupakan tanggung jawab yang menyertai perjalanan seorang pendidik, baik ketika mengajar maupun ketika menjalani kehidupan di tengah masyarakat. Pesan itu menjadi refleksi bagi para asatidz yang sehari-hari menjalankan tugas pendidikan. Menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan materi, menyelesaikan kurikulum, atau memastikan peserta didik memperoleh nilai yang baik. Lebih jauh, tugas itu merupakan amanah untuk membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan orang lain. (AA)
