BOJONEGORO — Belajar tidak selalu harus berlangsung di balik meja dan papan tulis. Selasa (29/9/2026), sebanyak 97 siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumuragung, Sumberrejo, Bojonegoro, justru menjadikan sejumlah sudut Kota Bojonegoro sebagai ruang belajar.
Melalui kegiatan Out Class Learning, siswa dari empat rombel—Kelas II Maulana Malik Ibrahim, II Maulana Ishaq, II Maulana Maghribi, dan II Syaikhona Kholil—diajak mengenal pembelajaran secara langsung. Sebanyak lima guru mendampingi perjalanan edukatif tersebut.
Rangkaian kegiatan dirancang untuk membawa siswa keluar dari rutinitas pembelajaran di dalam kelas. Mereka diajak mengamati, menggali informasi, sekaligus merasakan secara langsung objek yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui buku atau cerita guru.
Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB di Zahida Painting. Selama dua jam, hingga pukul 10.00 WIB, siswa mendapatkan pengalaman belajar melalui aktivitas seni lukis. Kanvas dan warna menjadi media bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus belajar melalui pengalaman langsung.Dari dunia seni, rombongan bergerak menuju Museum Rajekwesi. Mulai pukul 10.00 hingga 11.15 WIB, siswa diajak mengenal berbagai informasi sejarah dan kekayaan masa lalu Bojonegoro.Tidak berhenti di museum, perjalanan berlanjut dengan mengunjungi Alun-Alun Bojonegoro dan Masjid Agung Bojonegoro. Dua ruang publik tersebut menjadi bagian dari pengalaman siswa mengenal lingkungan, kehidupan masyarakat, serta ruang-ruang penting yang menjadi bagian dari wajah Kota Bojonegoro.
Rangkaian pembelajaran kemudian dilanjutkan menuju Geopark Bojonegoro pada pukul 11.15 hingga 12.30 WIB. Di lokasi tersebut, siswa kembali memperoleh pengalaman belajar melalui pengamatan terhadap lingkungan dan objek yang ada di hadapan mereka. Bagi MINU Walisongo, kegiatan tersebut bukan sekadar rekreasi atau jalan-jalan bersama. Out Class Learning dirancang sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan dari sumbernya secara langsung. Anak-anak tidak hanya diminta mengetahui sebuah informasi, tetapi juga melihat, memahami, dan merasakan. Dengan cara itu, pembelajaran diharapkan menjadi lebih dekat dengan dunia anak: konkret, menyenangkan, dan mudah diingat.
Model pembelajaran semacam ini juga memperluas makna ruang kelas. Museum bisa menjadi buku sejarah yang hidup. Kanvas bisa menjadi media belajar kreativitas. Alun-alun menjadi ruang untuk mengenal lingkungan sosial. Masjid menjadi bagian dari pengenalan ruang keagamaan dan budaya masyarakat. Sementara geopark membuka kesempatan bagi anak untuk mengamati lingkungan dan kekayaan daerah.
MINU Walisongo merupakan lembaga pendidikan yang berada di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, dalam satu kompleks dengan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Sumberrejo. Melalui Out Class Learning tersebut, sekolah berharap siswa semakin memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan mengamati lingkungan di sekitarnya. Sebab, pembelajaran yang berkesan tidak selalu lahir dari panjangnya penjelasan guru, tetapi juga dari kesempatan anak untuk melihat, mengalami, dan menemukan sendiri pengetahuan di dunia nyata. Pada akhirnya, sehari keluar kelas bukan berarti berhenti belajar. Justru, bagi 97 siswa MINU Walisongo, Bojonegoro hari itu adalah ruang kelas yang jauh lebih luas. (AA)
