BOJONEGORO, Alam bukan sekadar ruang terbuka untuk dikunjungi. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah, keseimbangan ekosistem, serta fenomena alam yang menyimpan pelajaran berharga. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan pembelajaran luar kelas pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan mengunjungi tiga destinasi di Bojonegoro, Jawa Timur: Sumber Air Dander, Khayangan Api, dan Growgoland.
Sebanyak kurang lebih 20 anak kelas V Excellent Class Program (ECP) Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Walisongo Sumuragung Sumberrejo Bojonegoro mengikuti kegiatan membaca sejarah Bojonegoro dengan didampingi dua pendamping, Mr. Dayat dan Mr. Kolis. Perjalanan ini dirancang sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan secara langsung, menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kenyataan di lapangan, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap alam dan sejarah daerahnya. Di Sumber Air Dander, peserta diajak mengenal pentingnya mata air sebagai bagian dari kehidupan. Air bukan hanya kebutuhan dasar manusia, melainkan juga penopang ekosistem yang keberadaannya perlu dijaga. Dari kawasan ini, anak-anak dapat belajar memahami hubungan antara sumber air, lingkungan sekitar, dan keberlangsungan kehidupan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Khayangan Api, salah satu destinasi alam yang dikenal dengan fenomena api abadi. Di tempat ini, pembelajaran bergerak ke ranah sejarah dan gejala alam. Nyala api yang terus muncul dari kawasan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenalkan fenomena keluarnya gas alam yang dapat terbakar, sekaligus menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap kekayaan geologi Bojonegoro. Bagi peserta, kunjungan ini bukan semata-mata menyaksikan sesuatu yang unik. Menurut Mr dayat Mengunjungi Khayangan Api menjadi berkesan dan menghadirkan kesempatan untuk memahami bahwa alam memiliki proses dan karakteristik yang dapat dipelajari melalui pengamatan, pertanyaan, serta penjelasan yang tepat kepada anak-anak.
Destinasi berikutnya adalah Sumber Air Growgoland. Di kawasan ini, perhatian kembali diarahkan pada sumber mata air dan lingkungan yang mengitarinya. Anak-anak memperoleh pengalaman belajar tentang arti penting air bagi kehidupan serta perlunya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan agar manfaat sumber daya alam dapat dirasakan secara berkelanjutan. Tiga lokasi tersebut menghadirkan sudut pandang pembelajaran yang saling melengkapi. Sumber Air Dander dan Growgoland memperkenalkan nilai penting mata air, sementara Khayangan Api membuka wawasan tentang fenomena alam dan sejarah lokal. Keseluruhannya menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pendampingan Mr. Dayat dan Mr. Kolis turut menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Kehadiran pendamping membantu anak-anak menjalani perjalanan dengan terarah sekaligus menjadikan setiap lokasi sebagai kesempatan untuk mengamati, bertanya, dan memperoleh pemahaman baru.
Pada akhirnya, pembelajaran di luar kelas tidak hanya diukur dari banyaknya tempat yang dikunjungi. Nilai utamanya terletak pada pengalaman yang membekas dan pengetahuan yang tumbuh setelah perjalanan berakhir. Melalui kunjungan ke Dander, Khayangan Api, dan Growgoland, uranglebih 20 anak ECP of MINU Walisongo diajak melihat Bojonegoro bukan hanya sebagai tempat tinggal, melainkan juga sebagai ruang belajar yang menyimpan kekayaan sejarah dan alam. Dari mata air hingga api abadi, alam mengajarkan satu hal mendasar: mengenali kekayaan lingkungan merupakan langkah awal untuk menghargai, menjaga, dan mewariskannya kepada generasi mendatang. (AA)
