Dakwah An Nahdliyah

Jika Mengaku Mencintai Rasulullah ﷺ, Sudahkah Kehadiran Kita Menjadi Rahmat?

Tausiyah Menyambut Maulid Nabi ﷺ - “Apakah mereka (tetangga, saudara, teman kerja, anak serta keluarga kita, dll) merasakan rahmat ketika berada di dekat kita?”

Oleh

Jika Mengaku Mencintai Rasulullah ﷺ, Sudahkah Kehadiran Kita Menjadi Rahmat?

Oleh : Kyai Abdullah Afif, S.Pd.I


Puji Syukur Kehadirat Ilahi Rabbi, atas segala karunia dan rahmatNYA yang tiada terbilang. Shalawat dan salam takdzim semoga senantiasa tercurahkan dengan sempurna kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Saudaraku, dalam Alquranul karim, Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
QS. Al-Anbiya’: 107

Saudaraku...

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

Seberapa besar nikmat yang dirasakan alam semesta sejak Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah?

Kita sering menyebut beliau sebagai Nabi. Kita mengenal beliau sebagai Rasul. Kita menyebut nama beliau dalam shalawat. Kita memperingati kelahiran beliau setiap tahun.

Tetapi ada satu hal yang jangan sampai kita lewatkan:

Rasulullah ﷺ bukan sekadar Nabi yang membawa aturan agama. Beliau adalah rahmat yang Allah hadiahkan kepada seluruh alam.

Perhatikan firman Allah.

Allah tidak mengatakan:

"Kami mengutusmu hanya untuk orang-orang yang beriman."

Allah justru berfirman:

لِّلْعَالَمِينَ

“Bagi seluruh alam.”

Artinya, rahmat Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada satu kelompok manusia. Tidak berhenti pada mereka yang telah beriman. Tidak berhenti pada orang yang menyukainya.

Rahmat beliau begitu luas.

Manusia merasakannya.
Anak-anak merasakannya.
Orang tua merasakannya.
Orang miskin merasakannya.
Orang lemah merasakannya.

Bahkan hewan, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Allah pun mendapatkan pantulan kasih sayang dari risalah beliau.

Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ menggambarkan dirinya, beliau bersabda:

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

"Sesungguhnya aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan."

Seakan-akan Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan kepada kita:

“Jangan hanya kenali aku sebagai pembawa syariat. Kenalilah aku sebagai rahmat.”


RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KITA: HADIRLAH SEBAGAI RAHMAT


Saudaraku...

Kalau kita membaca perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan sesuatu yang begitu indah:

Hampir di setiap sudut kehidupan beliau terdapat kasih sayang.

Ketika melihat seorang anak kecil menangis, beliau tidak menganggapnya sebagai gangguan.

Ketika melihat orang tua, beliau menghormatinya.

Ketika melihat orang miskin, beliau mendekatinya.

Ketika melihat orang lemah, beliau membelanya.

Ketika melihat orang melakukan kesalahan, beliau tidak selalu membalasnya dengan kemarahan, tetapi membimbingnya dengan kelembutan.

Bahkan kepada hewan pun Rasulullah ﷺ mengajarkan kasih sayang.

Pernah Rasulullah ﷺ melihat seekor unta yang kurus dengan air mata yang mengalir dari matanya. Beliau mendekatinya, mengusapnya, kemudian menegur pemiliknya agar bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan hewan tersebut.

Lihatlah...

Seekor hewan pun tidak luput dari perhatian Rasulullah ﷺ.

Lalu bagaimana dengan manusia yang berada di sekitar kita?

Bagaimana dengan pasangan kita?

Bagaimana dengan anak-anak kita?

Bagaimana dengan tetangga kita?

Bagaimana dengan teman kerja kita?

Bagaimana dengan orang yang setiap hari bertemu dengan kita?

Apakah mereka merasakan rahmat ketika berada di dekat kita?

Atau justru mereka merasa lebih tenang ketika kita tidak ada?

Pertanyaan ini mungkin sederhana.

Tetapi bagi orang yang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, pertanyaan ini sangat dalam.

RAHMAT BUKAN BERARTI MEMBIARKAN SEMUA KESALAHAN

Saudaraku...

Jangan salah memahami rahmat.

Rahmat bukan berarti kita selalu membiarkan seseorang melakukan kesalahan.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut, tetapi beliau juga tegas ketika kebenaran dilanggar.

Beliau lembut ketika kelembutan dibutuhkan.

Beliau tegas ketika ketegasan dibutuhkan.

Inilah rahmat yang sebenarnya.

Rahmat bukan berarti tidak pernah mengatakan “tidak”.

Rahmat bukan berarti membiarkan kemungkaran.

Rahmat adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, dengan hati yang bersih dari kebencian dan dendam.

Dan di sinilah kita sering diuji.

Sebab terkadang kita mampu bersikap lembut kepada orang yang kita sukai.

Tetapi mampukah kita tetap menjaga hati ketika berhadapan dengan orang yang menyakiti kita?

Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang hampir sulit dibayangkan oleh akal kita.

Beliau pernah disakiti.

Beliau dihina.

Beliau dilempari batu hingga tubuhnya berdarah.

Namun penderitaan itu tidak membuat beliau menjadikan kebencian sebagai balasan.

Dalam peristiwa Thaif, ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan mereka, Rasulullah ﷺ justru berharap agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Bayangkan!

Orang yang menyakiti beliau justru beliau doakan agar mendapatkan hidayah.

Inilah rahmat.

Bukan kelemahan.

Bukan ketidakberdayaan.

Tetapi kekuatan hati untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

KITA MUNGKIN BUKAN ORANG BESAR. TETAPI KITA BISA MENJADI RAHMAT.

Saudaraku...

Mungkin kita tidak mampu menjadi orang besar.

Mungkin kita tidak mempunyai kekuasaan.

Mungkin kita tidak memiliki harta yang banyak.

Mungkin nama kita tidak dikenal banyak orang.

Tetapi ada satu hal yang bisa dilakukan oleh siapa pun:

Menjadi rahmat.

Senyuman kita bisa menjadi rahmat.

Ucapan yang lembut bisa menjadi rahmat.

Memaafkan kesalahan orang lain bisa menjadi rahmat.

Memberi makan orang yang lapar bisa menjadi rahmat.

Menolong tetangga bisa menjadi rahmat.

Mendidik anak dengan kasih sayang bisa menjadi rahmat.

Tidak menyakiti orang lain juga merupakan rahmat.

Bahkan menahan lisan agar tidak melukai hati seseorang pun bisa menjadi bentuk rahmat.

Karena terkadang...

kebaikan terbesar bukanlah apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita pilih untuk tidak katakan.

Maka jangan menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik.

Jangan menunggu menjadi pejabat untuk bermanfaat.

Jangan menunggu menjadi ulama untuk mengajarkan kebaikan.

Jangan menunggu memiliki banyak pengikut untuk memberikan manfaat.

Jangan menunggu menjadi “seseorang” untuk menjadi rahmat.

Di mana pun kita berada, jadilah manusia yang menghadirkan rahmat.

Di rumah, jadilah rahmat.

Di sekolah, jadilah rahmat.

Di tempat kerja, jadilah rahmat.

Di tengah masyarakat, jadilah rahmat.

Bahkan ketika berada di hadapan orang yang berbeda dengan kita, tetaplah berusaha menjadi rahmat.

Sebab kita adalah umat dari manusia yang Allah kirimkan sebagai:

رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Rahmat bagi seluruh alam.

JANGAN HANYA MEMPERBANYAK SHALAWAT, PERBANYAKLAH RAHMAT

Saudaraku...

Maulid Nabi bukan hanya momentum untuk memperbanyak pujian kepada Rasulullah ﷺ.

Bukan hanya tentang merdu tidaknya lantunan shalawat.

Bukan hanya tentang semaraknya acara.

Bukan hanya tentang seberapa banyak kita mengucapkan cinta kepada beliau.

Tetapi Maulid seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau aku benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, sudahkah akhlakku menyerupai akhlak beliau?”

Kalau kita rajin bershalawat tetapi lisan kita masih mudah menyakiti...

Jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ tetapi hati kita masih dipenuhi dendam...

Jika kita merayakan Maulid tetapi kehadiran kita justru membuat orang lain merasa takut, tertekan, atau terluka...

Maka mungkin ada sesuatu yang perlu kita perbaiki dalam cara kita memahami cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Sebab tanda cinta kepada beliau bukan hanya banyaknya shalawat yang terdengar dari lisan.

Tetapi juga:

semakin lembut hati kita,
semakin baik akhlak kita,
semakin luas kasih sayang kita,
dan semakin banyak makhluk Allah yang merasakan kebaikan dari kehadiran kita.

MUTIARA HIKMAH

“Rasulullah ﷺ adalah rahmat yang Allah hadiahkan kepada alam semesta.”

Maka tanda cinta kita kepada beliau bukan hanya banyaknya shalawat di lisan, tetapi juga semakin lembutnya hati, semakin baiknya akhlak, dan semakin banyaknya makhluk Allah yang merasakan kebaikan dari kehadiran kita.

Jangan hanya mengaku sebagai umat pembawa rahmat.
Jadilah rahmat itu sendiri.

DOA

Ya Allah...

Jadikanlah kami termasuk umat Nabi-Mu Muhammad ﷺ.

Karuniakanlah kepada kami cinta kepada beliau dan kemampuan untuk mengikutinya.

Hiasilah kami dengan akhlaknya.

Lembutkan hati kami.

Jaga lisan kami agar tidak menyakiti.

Bimbing langkah kami agar selalu membawa manfaat.

Dan jadikanlah kami rahmat bagi orang-orang yang berada di sekitar kami.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ