BOJONEGORO – Musim penghujan belum benar-benar tiba. Namun, Yayasan Wali Songo Annahdliyah Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, memilih untuk tidak menunggu datangnya genangan.
Saat sebagian orang baru bergerak setelah air meluap dan aktivitas terganggu, yayasan yang berada dalam satu kompleks dengan Masjid Jami’ Wali Songo Sumuragung itu justru mulai melakukan langkah antisipatif. Sistem drainase dibenahi. Jalur pembuangan air ditata ulang.
Tujuannya sederhana, tetapi penting: jangan sampai hujan menghentikan proses pendidikan.
Dari pantauan di lokasi, sejumlah pekerja tampak melakukan pengerjaan pada beberapa bagian saluran drainase yang berada di sisi depan Unit SMP NU Model. Pembangunan tersebut telah dimulai sekitar sepekan lalu.
Hingga Senin, 31 Agustus 2026, proses pengerjaan masih berlangsung. Para pekerja terlihat melakukan perapian sekaligus penguatan konstruksi saluran agar mampu berfungsi lebih optimal ketika intensitas hujan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Bukan tanpa alasan.
Sistem drainase baru itu disiapkan untuk mengatasi kemungkinan genangan air maupun luapan dari saluran lama yang selama ini berpotensi mengganggu aktivitas belajar-mengajar di lingkungan yayasan.
Selain mengantisipasi air hujan, saluran tersebut juga dirancang untuk mendukung sistem pembuangan air dari berbagai aktivitas warga yayasan. Mulai dari sisa air wudu, kegiatan bersih-bersih, hingga aktivitas luar ruang yang melibatkan peserta didik dalam jumlah besar.
Apalagi, lapangan Yayasan Wali Songo kerap digunakan untuk berbagai kegiatan. Bukan hanya kegiatan internal yayasan, tetapi juga agenda berskala kecamatan, kabupaten, bahkan kegiatan yang melibatkan peserta dari wilayah yang lebih luas.
Salah seorang pekerja, Kastolan, menjelaskan bahwa pembangunan tersebut menyasar beberapa titik saluran yang dinilai perlu mendapatkan pembenahan.
“Saluran ini terdiri atas saluran depan ECP atau Excellent Class Program, kemudian saluran depan Unit SMP NU Model,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menariknya, pekerjaan drainase tersebut ditangani oleh tenaga yang sebelumnya juga terlibat dalam sejumlah pembangunan di lingkungan Yayasan Wali Songo Annahdliyah. Di antaranya pembangunan ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan.
Hal itu menjadi bagian dari upaya yayasan untuk terus menata kawasan pendidikan agar semakin representatif dan siap menghadapi berbagai kebutuhan.
Sebab, pembangunan ternyata tidak hanya berbicara tentang gedung yang menjulang atau ruang kelas yang tampak megah.
Drainase mungkin berada di bawah tanah. Jarang terlihat. Bahkan sering luput dari perhatian. Namun ketika sistem itu tidak berfungsi, dampaknya bisa langsung terasa di atas permukaan.
Genangan air bisa mengganggu mobilitas. Lingkungan belajar menjadi kurang nyaman. Aktivitas pendidikan pun berpotensi tersendat.
Karena itulah, pembenahan saluran air menjadi bagian penting dari pembangunan lingkungan pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.
Di tengah proyek perapian drainase tersebut, Yayasan Wali Songo Annahdliyah juga terus melakukan pengembangan sarana pendidikan lainnya. Saat ini, pembangunan tiga unit ruang kelas baru juga tengah berlangsung.
Lokasinya berada di sayap timur kawasan yayasan, bersebelahan dengan gedung perpustakaan.
Pembangunan itu menjadi penanda bahwa Yayasan Wali Songo Annahdliyah tidak ingin berhenti hanya pada kondisi yang sudah ada.
Gedung boleh bertambah. Ruang kelas boleh diperluas. Tetapi yang lebih penting, seluruh ekosistem pendidikan harus disiapkan dengan matang—termasuk saluran air yang mungkin tidak banyak terlihat, tetapi sangat menentukan kenyamanan.
Karena pendidikan yang baik tidak hanya dibangun di dalam kelas.
Kadang, ia juga dimulai dari memastikan bahwa ketika hujan turun, proses belajar tetap berjalan.
(AA)
