BOJONEGORO β Ada hari-hari tertentu yang terasa berbeda. Bukan karena kalender menandainya sebagai hari istimewa, melainkan karena begitu banyak kebahagiaan datang hampir bersamaan.
Bagi keluarga besar Yayasan Walisongo Annahdliyah Sumberrejo, Minggu, 27 September 2026, menjadi salah satu hari yang sulit dilupakan. Pada hari yang sama, tiga pasangan dari lingkungan pendidik yayasan tersebut melangsungkan akad nikah. Kebahagiaan itu pun terasa semakin lengkap karena sejumlah asatidz lainnya juga tengah menerima anugerah buah hati.
Tiga akad nikah dalam satu hari, melibatkan empat guru dari lingkungan Yayasan Walisongo Annahdliyah yang berkedudukan di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Sebuah kebetulan yang kemudian dirayakan bersama sebagai momentum penuh doa dan keberkahan.
Pasangan pertama adalah Achmad Nur Faizin, S.Pd, Wali Kelas VI Rombel KH Wahab Hasbullah, yang mempersunting Eka Rizki Shafira, S.Pd. Keduanya bukan sekadar pasangan dalam kehidupan rumah tangga. Mereka juga dikenal sebagai partner dalam aktivitas organisasi sekaligus bersama-sama mengawal kegiatan Satuan Komunitas Pramuka Ma'arif NU di Unit Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Walisongo. Akad berikutnya mempertemukan Siti Nur Chamidah, S.Pd, salah seorang asatidz Kelas Excellent, dengan jejaka pilihannya, Muhammad Afandy, S.Sos. Sementara itu, kebahagiaan serupa dirasakan Lyla Nur Faizah, yang juga merupakan salah seorang asatidz Kelas Excellent. Ia melangsungkan akad nikah dengan lelaki pujaan hatinya, Mochamad Khabib Royan.
Yang menarik, ketiga pasangan tersebut melangsungkan akad pada tanggal, hari, bulan, dan tahun yang sama. Tiga akad. Enam insan. Satu tanggal yang sama.
Bagi keluarga besar Walisongo, kesamaan momentum tersebut bukan sekadar sebuah kebetulan kalender. Ia menjadi alasan untuk berkumpul, saling mendoakan, sekaligus merayakan bertambahnya keluarga baru di lingkungan mereka. Ada cara tersendiri yang dipilih keluarga besar Walisongo untuk memberikan penghormatan kepada para guru yang sedang memasuki babak baru kehidupannya. Para asatidz bahkan rela melakukan perjalanan seharian penuh bersama-sama menggunakan armada kendaraan modifikasi. Perjalanan tersebut tidak sekadar menjadi sarana untuk menghadiri rangkaian pernikahan. Kebersamaan di atas kendaraan justru berubah menjadi ruang silaturahmi, canda, doa, dan ekspresi rasa syukur. Ifa Nurul Lathifah, salah seorang yang terlibat dalam kebersamaan tersebut, menyebut perjalanan itu dilakukan sebagai bentuk takdzim kepada para asatidz sekaligus ikhtiar untuk mendapatkan ridha Allah dan keberkahan bagi para pengantin baru.
βIni bagian dari ikhtiar mendapatkan ridha Ilahi dan keberkahan untuk manten anyar,β demikian ucapan syukur ustdzah Ifa yang berdomisili di desa Sendangagung.
Menariknya, agenda kebersamaan keluarga besar Walisongo pada hari itu tidak berhenti pada perayaan pernikahan. Perjalanan dengan armada modifikasi tersebut sekaligus dirangkai dengan tilik bayi kepada para asatidz yang sebelumnya telah dikaruniai buah hati. Setidaknya terdapat empat keluarga di lingkungan yayasan yang juga tengah menerima anugerah terindah dari Allah berupa kelahiran buah hati. (AA).
