BOJONEGORO — Pagi itu, ruang belajar 24 siswa Kelas 2 Wahid Hasyim Excellent Class Program MINU Wali Songo berpindah. Bukan lagi di antara papan tulis dan bangku sekolah, melainkan ke tiga rumah ibadah di jantung kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Pada Sabtu (26/9/2026), para siswa mengunjungi Kelenteng Hok Swie Bio, Gereja Santo Paulus, dan Masjid Alun-Alun Bojonegoro. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan keberagaman agama sekaligus mengajak anak-anak memahami perbedaan melalui pengalaman langsung. Bagi anak-anak seusia mereka, keberagaman bukan sekadar istilah yang tertulis dalam buku pelajaran. Di tiga tempat yang berbeda itu, mereka melihat sendiri bagaimana rumah ibadah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan tradisi, keyakinan, dan sejarahnya masing-masing. Di setiap lokasi, siswa berkesempatan mengenal lingkungan tempat ibadah dan berinteraksi dengan pengelolanya. Mereka menyaksikan bahwa di tengah perbedaan keyakinan, kehidupan masyarakat tetap dapat berjalan berdampingan.
Wali Kelas 2 Wahid Hasyim, Nur Jamilatin, S.Pd., bersama Co Teacher Aprillia Dwi Anggraini, S.Pd., mendampingi siswa sepanjang kegiatan. “Pembelajaran ini bagian dari proses mendekatkan anak kepada sumber utama materi” kata Miss Mila, panggilan akrabnya.
Pembelajaran di luar kelas itu sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan keberagaman tanpa sekadar menjadikannya teori. Anak-anak diajak melihat perbedaan dari jarak dekat, bertanya, mendengarkan penjelasan, dan memahami bahwa masyarakat Bojonegoro dibangun oleh berbagai latar belakang agama dan budaya. Pesan yang ingin ditanamkan sederhana, tetapi penting: berbeda bukan berarti harus berjarak. Sejak usia dini, siswa diperkenalkan pada sikap menghormati keyakinan orang lain tanpa harus kehilangan identitas dan keyakinannya sendiri. Dengan cara itu, keberagaman ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan bersama yang perlu dikenali, dihargai, dan dijaga.
Ketiga tempat yang dikunjungi juga menyimpan jejak sejarah dan budaya. Karena itu, perjalanan tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman siswa mengenai kehidupan beragama, tetapi juga membuka jendela baru untuk mengenal sejarah masyarakat Bojonegoro.Pengalaman itu menjadi pelajaran yang mungkin tidak seluruhnya dapat diperoleh dari halaman buku. Anak-anak belajar melalui apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung.
Bagi MINU Wali Songo, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual—pembelajaran yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mengajak siswa membaca kehidupan di sekitarnya. Sebab, pendidikan tentang keberagaman pada akhirnya bukan hanya tentang mengenalkan perbedaan. Lebih jauh, ia adalah upaya menumbuhkan generasi yang mampu hidup berdampingan, menghormati sesama, dan melihat perbedaan sebagai bagian dari wajah masyarakat Indonesia. (AA)
