BOJONEGORO — Prestasi tidak selalu lahir dari lembaga yang sudah lama berdiri. Setidaknya, itu yang ditunjukkan dua lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Walisongo Annahdliyah Sumberrejo, Bojonegoro.
Dalam rentang dua pekan terakhir, MINU Walisongo dan SMP NU Model silih berganti mencatat prestasi. Terbaru, keduanya ambil bagian dalam rangkaian lomba Harlah LP Ma’arif NU ke-97 tingkat Kabupaten Bojonegoro. Ajang tersebut digelar melalui beberapa tahapan. Babak penyisihan berlangsung secara daring pada 15 September 2026. MINU Walisongo mengirimkan sejumlah peserta untuk mengikuti olimpiade. Mereka adalah Huda, Azam, Ilham, Rara, Firsya, dan Qinanty.
Selain olimpiade, MINU Walisongo juga mengirimkan tim paduan suara. Tim tersebut tampil dengan persiapan serius. Latihan dilakukan berhari-hari untuk membangun kekompakan dan kualitas penampilan. Meski belum berhasil menembus posisi teratas, capaian pada babak penyisihan tetap menjadi catatan positif. Nilai yang diraih bahkan sama dengan peserta yang berada tepat di atasnya. "Ini menunjukkan bahwa anak-anak mampu bersaing. Tinggal bagaimana ke depan mereka terus berlatih dan meningkatkan kualitas," ujar Alfi Rohmatin pembina Paduan Suara.
Perjuangan MINU Walisongo berlanjut pada babak final yang digelar Sabtu (19/9/2026). Kali ini, madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Walisongo tersebut mengirimkan dua peserta pada lomba kaligrafi kontemporer, yakni Clara dan Mohammad Fahri Ibrahim. Hasilnya cukup mencuri perhatian. Fahri mampu menyisihkan ratusan peserta dan menempatkan karyanya sebagai salah satu dari enam karya terbaik. Karya kaligrafi kontemporer buatannya berhasil meraih peringkat 2 Harapan.
Bagi pembina, capaian tersebut bukan hasil yang sederhana. Apalagi, persaingan di babak final berlangsung ketat. Ratusan karya peserta lain juga dinilai memiliki kualitas dan daya tarik visual yang kuat. "Ini sudah luar biasa. Target yang kami sepakati dalam latihan berkali-kali dnegan anak-anak adalah masuk enam besar. Alhamdulillah, Fahri mampu mewujudkannya," kata Ifa Nurul Lathifah pembina Kaligrafi yang berpasangan dengan Arina Muhtadin.
Cerita berbeda datang dari unit pendidikan lainnya, SMP NU Model. SMP NU Model Bikin Kejutan. Meski usianya masih relatif muda, sekolah tersebut justru mampu membuat kejutan dalam ajang yang sama. Sebelumnya, SMP NU Model berhasil meraih Juara I Olimpiade Aswaja tingkat kecamatan. Prestasi tersebut mengantarkan delegasinya ke tingkat Kabupaten Bojonegoro.
Di tingkat kabupaten, Lintang Nasywa Kirana tampil sebagai delegasi SMP NU Model. Ia harus bersaing dengan peserta dari sejumlah lembaga pendidikan yang bahkan telah berdiri puluhan tahun lebih lama. Namun, usia lembaga bukan menjadi penghalang. Lintang berhasil menyisihkan para pesaingnya dan membawa pulang Juara II Olimpiade Aswaja tingkat Kabupaten Bojonegoro 2026.
Dalam komunikasi melalui jaringan daring dengan pembimbing olimpiadenya, Ust. Ahsanul Amilin, Lintang sempat mengaku sedikit grogi menghadapi kompetisi. Respons sang pembimbing justru sederhana. "You are the best, keep smile and enjoy." Pesan singkat itu menjadi penyemangat agar Lintang tetap percaya diri dan menikmati proses kompetisi. Tak hanya olimpiade. Tim paduan suara SMP NU Model juga berhasil lolos dari babak penyisihan dan melenggang ke babak final yang diselenggarakan di Kampus NU Unugiri Bojoengroo. Pada babak final yang digelar Sabtu (19/9/2026), tim tersebut berhasil meraih Juara Harapan III.
Bukan Sekadar Piala. Deretan prestasi tersebut menambah catatan panjang capaian dua lembaga pendidikan di bawah Yayasan Walisongo Annahdliyah Sumberrejo. Dalam rentang sekitar dua pekan, prestasi datang silih berganti. Bahkan, pada Agustus 2026, kedua lembaga tersebut juga memborong sejumlah medali dari berbagai ajang kompetisi. Bagi sekolah dan madrasah, sederet penghargaan tersebut bukan semata tentang piala dan peringkat. Ada proses panjang di belakangnya: latihan, keberanian tampil, pengalaman berkompetisi, serta keberanian anak-anak untuk bersaing dengan peserta dari lembaga lain. Dari Sumberrejo, anak-anak Walisongo sedang belajar satu hal penting: prestasi tidak selalu menunggu sekolah menjadi besar. Kadang, prestasi justru menjadi jalan bagi sebuah sekolah untuk menunjukkan bahwa mereka sedang tumbuh. (AA)
