Kegiatan

Dari Buku ke Tanah Lapang: 80 Siswa MI NU Walisongo Belajar Manasik Haji di Pasuruan

Anak-Anak Madrasah Bojonegoro Menjemput Makna Haji di Bawah Terik Pasuruan dan Tawassul mendoakan kedua orangtua masing-masing di Mbah Hamid pasuruan

Oleh

Dari Buku ke Tanah Lapang: 80 Siswa MI NU Walisongo Belajar Manasik Haji di Pasuruan

BOJONEGORO — Seberapa jauh pelajaran tentang ibadah haji dan ekosistem gurun dapat dipahami anak-anak jika hanya disampaikan melalui buku dan penjelasan di ruang kelas? Bagi siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MI NU) Walisongo Sumuragung, Sumberrejo, Bojonegoro, jawabannya ditemukan melalui pengalaman belajar di luar kelas. Pada Selasa (13/10/2026), sebanyak 80 siswa mengikuti kegiatan Outclass Learning (OCL) V 2026 di sejumlah lokasi di Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata, sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk mengamati, mempraktikkan, dan memahami pelajaran secara langsung.

Sejak pukul 05.00 WIB, para siswa yang tergabung dalam rombongan belajar Sunan Bonang, Sunan Drajad, dan KH. Ridlwan Abdullah telah berkumpul di lingkungan madrasah. Dengan diantar orang tua masing-masing, mereka bersiap menempuh perjalanan menggunakan dua bus, didampingi lima guru. Tujuan utama kegiatan tersebut adalah Wisata Kurma Park, Pasuruan. Di lokasi ini, para siswa memperoleh kesempatan mengenal lingkungan yang merepresentasikan sebagian karakteristik kawasan Timur Tengah, termasuk keberadaan pohon kurma yang menjadi bagian dari materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).

Hamparan lingkungan wisata dan pepohonan kurma memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran melalui gambar di buku. Siswa dapat mengamati secara langsung bentuk tanaman, kondisi lingkungan, serta buah kurma yang tumbuh di pohonnya. Dengan demikian, materi yang sebelumnya dipelajari secara teoretis memperoleh konteks yang lebih konkret. Di lokasi yang sama, pembelajaran fikih dilaksanakan melalui praktik manasik haji. Para siswa mengikuti tahapan simulasi ibadah haji, mulai dari tawaf mengelilingi replika Kakbah, yang dilengkapi dengan sejumlah penanda tempat bersejarah dalam tradisi manasik, hingga sai antara Shafa dan Marwa, wukuf di Jabal Rahmah, serta simulasi melontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tahalul.

Guru fikih MI NU Walisongo, Ustaz Junaidi, menilai praktik langsung membantu siswa mengingat materi yang dipelajari. Menurut dia, keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. “Minimal anak-anak mengingat pelajaran karena mereka merasakan dan terlibat langsung dengan antusias,” kata Junaidi.

Harapan serupa disampaikan Alfi, wali kelas rombongan belajar Sunan Bonang sekaligus pembina seni tilawah. Ia berharap pengalaman manasik haji dapat menumbuhkan pemahaman tentang ibadah sekaligus memupuk cita-cita siswa untuk berkunjung ke Tanah Suci pada masa mendatang. “Bisa jadi sekarang mereka sedang manasik, esok hari merekalah yang benar-benar berangkat ke Tanah Suci,” tuturnya.

Sementara itu, Zainal Putra Nafi, guru pendamping rombongan belajar KH. Ridlwan Abdullah, memandang pengalaman langsung sebagai sarana untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari di kelas. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi pijakan bagi guru untuk mengulas kembali pelajaran setelah kegiatan berakhir. Pembelajaran tidak berhenti di kawasan wisata. Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Alun-alun Kota Pasuruan. Ruang publik ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal penerapan nilai-nilai Pendidikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya memahami hak dan kewajiban serta menjaga etika ketika menggunakan fasilitas bersama.

Dari alun-alun, para siswa menuju Masjid Jami' Pasuruan. Di tempat ibadah tersebut, mereka melaksanakan salat berjamaah dan mempraktikkan materi fikih mengenai salat jamak dan qasar sesuai dengan arahan guru pendamping. Kegiatan juga diisi dengan pembelajaran Ke-NU-an dan Ahlussunnah wal Jamaah melalui tawasul dan doa di makam KH. Abdul Hamid Pasuruan. Bagi para siswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenal tradisi keagamaan yang diajarkan di madrasah sekaligus menumbuhkan penghormatan terhadap ulama dan sejarah penyebaran Islam. Rangkaian kegiatan berakhir pada malam hari. Setelah salat berjamaah dan dokumentasi, rombongan bertolak kembali ke Bojonegoro pada pukul 20.15 WIB.

Perjalanan sehari itu mempertemukan sejumlah mata pelajaran dalam satu rangkaian pengalaman: IPAS melalui pengamatan lingkungan, fikih melalui praktik manasik dan salat, Pendidikan Pancasila melalui interaksi di ruang publik, serta Ke-NU-an melalui pengenalan tradisi keagamaan. Melalui OCL V 2026, MI NU Walisongo Sumuragung berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak semata-mata bertumpu pada penjelasan guru dan buku pelajaran. Pengalaman di luar kelas diharapkan membantu siswa memahami hubungan antara pengetahuan, praktik, dan kehidupan sehari-hari. Sebab, bagi anak-anak, pelajaran yang mereka lihat dan alami sendiri dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sesuatu yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui kata-kata. (AA)