Kegiatan

Bukan Zaman Menghafal Lagi: Saat Guru Kelas I Madrasah di Sumberrejo Mulai ‘Berkawan’ dengan AI

Puluhan pendidik kelas 1 dan 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) ber KKG dipandu Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Sumberrejo Bojonegoro

Oleh

Bukan Zaman Menghafal Lagi: Saat Guru Kelas I Madrasah di Sumberrejo Mulai ‘Berkawan’ dengan AI

BOJONEGORO — Ruang kelas masa kini tak lagi sama dengan dua dekade silam. Papan tulis hitam dan kapur berdebu kian tersisih oleh laju teknologi yang berlari kencang. Menyadari derasnya arus perubahan itu, para pendidik madrasah di Kecamatan Sumberrejo menolak untuk sekadar jadi penonton. Mereka memilih beradaptasi, merangkul kecerdasan buatan (artificial intelligence) demi ruang kelas yang lebih hidup.

Geliat transformasi itu tampak nyata di Aula MWC NU lantai 3, Selasa (8/9). Bertempat di MINU Unggulan Walisongo, puluhan pendidik kelas 1 dan 2 jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) berkumpul dalam forum Kelompok Kerja Guru (KKG) di bawah naungan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Sumberrejo. Agendanya tegas: membongkar sekat metode lama dan menjajal pemanfaatan prompting AI untuk merancang media ajar yang segar.

Ketua KKM Sumberrejo, Moh. Tamyiz, S.Pd., membuka forum dengan analogi yang mengena di hati para pendidik. Baginya, teknologi canggih apa pun hanyalah alat; jiwanya tetap ada pada sosok guru di depan kelas.

Ilmu adalah cahaya, dan kita sebagai guru adalah pelita bagi anak didik kita. Tanpa api ketulusan dari pendidik, cahaya itu tak akan pernah sampai ke mereka," tutur Tamyiz di hadapan para peserta.

Semangat kebersamaan itu kian terasa saat Kepala MINU Unggulan Walisongo, Fatimatus Zahroh, M.Pd., menyambut para kolega pengajar dengan hangat. Kerendahan hati tuan rumah yang menyuguhkan ruang dialog cair membuat forum dua jam itu berjalan tanpa rasa kaku birokrasi.

Masuk ke sesi inti, Ketua KKG Sumberrejo, Pujiono, S.Pd., langsung memantik diskusi dengan topik yang tengah hangat: Kode AI untuk Membuat Media Pembelajaran. Menurut Pujiono, anak-anak generasi hari ini tumbuh berdampingan dengan layar gawai. Jika guru masih bertahan dengan pola dikte satu arah, kelas akan cepat kehilangan daya pikat.

Di forum ini, para guru kelas bawah diajak merumuskan instruksi terarah agar kecerdasan buatan mampu menghasilkan materi visual, lembar interaksi, hingga cerita tematik yang sesuai dengan psikologi siswa usia 6–7 tahun. Guru bukan digantikan oleh mesin, melainkan dipersenjatai agar proses mengajar jauh lebih berdampak dan tidak melelahkan secara administratif.

Dua jam bertukar pikiran bukan sekadar formalitas menggugurkan kewajiban organisasi. Pertemuan di Sumberrejo membuktikan bahwa dari rahim madrasah, para pendidik siap melompat jauh ke depan—menjaga nilai tradisi sembari melaju bersama teknologi mutakhir. (AA)