BOJONEGORO - Senyum polos anak-anak dan sorot antusias menuju lokasi tujuan, dander dengan menaiki 8 armada. Selang beberapa waktu para orang tua membaur di bawah rimbunnya pepohonan Dander Waterpark, Bojonegoro, Sabtu (12/9). Ratusan pasang mata sejenak menanggalkan rutinitas pekerjaan dan urusan rumah tangga demi satu tujuan: membersamai langkah awal putra-putri mereka di jenjang sekolah dasar lewat Outbond Parenting Class (OPC) kelas 1 MINU Unggulan Walisongo.
Pagi itu, sekat antara guru, wali murid, dan siswa runtuh total. Dipandu guru-guru dengan iringan musik ritmis, gerakan senam bersama membuka kegiatan dengan penuh tawa. Tak ada ruang untuk rasa canggung ketika tangan-tangan mungil para siswa menggenggam erat jemari orang tua mereka, mengikuti aba-aba gerakan instruktur.
Dinamika kian terasa saat panitia mengocok kelompok lintas kelas. Peserta dari rombongan belajar Raden Fatah, Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Raden Asnawi berbaur acak. Strategi ini bukan tanpa makna; para wali murid yang sebelumnya saling tak kenal kini dituntut menyamakan frekuensi, merancang taktik, dan bergerak serempak menyelesaikan misi permainan lapangan bersama anak-anak.
Di tengah terik yang mulai meninggi, aneka tantangan ketangkasan dan kekompakan disajikan secara bergantian. Riuh sorak penonton pecah saat para ayah berjibaku menjaga keseimbangan kelompok, sementara para ibu sibuk menyemangati si kecil agar pantang menyerah sebelum garis finis terlampaui. Keringat yang menetes perlahan berganti menjadi tawa renyah ketika rintangan demi rintangan berhasil ditaklukkan bersama.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan holistik bukan hanya perkara nilai rapor atau jam belajar di ruang tertutup. Kehadiran utuh orang tua di samping anak, bertukar canda, dan saling dukung saat menghadapi rintangan kecil di lapangan rumput justru menanamkan memori emosional yang jauh lebih membekas.
Hari mulai bergeser siang ketika seluruh rangkaian permainan rampung. Meski pakaian kotor terkena tanah dan napas terengah karena lelah, gurat kepuasan tampak jelas di wajah para peserta. Bagi orang tua, momen pendampingan langsung ini membayar lunas segala keletihan; sebuah ikhtiar sederhana untuk memastikan anak merasa aman, didengar, dan didampingi sejak langkah awal masa sekolahnya.
Pihak penyelenggara juga memberikan apresiasi kepada kelompok yang kompak dan paling antusias selama kegiatan berlangsung. (AA)
