Prestasi

Bukan Sekadar Gudang Buku! Dari Sumberrejo, Remaja NU Guncang Dunia Literasi Lewat Karya

Empat Siswa SMP NU Model berkarya lewat Puisi, Go Publik !

Oleh

Bukan Sekadar Gudang Buku! Dari Sumberrejo, Remaja NU Guncang Dunia Literasi Lewat Karya

BOJONEGORO – Siapa bilang perpustakaan sekolah cuma tempat berdebu buat menyimpan buku usang? Di tangan siswa-siswi SMP NU Model Sumberrejo, perpustakaan justru disulap jadi kawah candradimuka yang melahirkan karya magis penggetar jagat literasi.

Lewat program kreatif Perpustakaan Madinatul Ilmi Yayasan Wali Songo An-Nahdliyah (Sumuragung, Sumberrejo), para pelajar membuktikan bahwa anak daerah tak sekadar jadi penonton. Mengusung filosofi “Setiap kata adalah jejak, setiap puisi adalah karya untuk menginspirasi”, seluruh siswa ditantang menumpahkan keresahan, impian, dan gagasan mereka ke dalam bait-bait puisi sejak awal Januari 2026 lalu.

Kurasi ketat langsung digeber tim perpustakaan sekolah. Naskah-naskah terbaik kemudian diterbangkan ke dapur redaksi komunitas literasi Tim Desiran Pena untuk program bergengsi Puisi Go Public.

Hasilnya? Empat karya orisinal siswa sukses menyisihkan antrean karya dan resmi terbit ke publik pada 10 Agustus 2026:

  • Ketebalan Aksara karya Lintang Naswa K.

  • Coretan Menuju Masa Depan karya Anggun Tri Pangestu.

  • Ruang Ilmu Yang Menyinari Dunia karya Maura Anggraini.

  • Ruang Ilmu & Impian Masa Depanku karya Nur Layla.

Respons pembaca pun luar biasa. Hanya dalam hitungan hari pascaterbit, postingan karya mereka meledak hingga menembus lebih dari 3.000 pembaca dan penikmat karya di jagat maya—sebuah capaian impresif untuk karya sastra level pelajar SMP.

Menurut Kepala Perpustakaan Madinatul Ilmu, Azis. Langkah konkret ini menjadi alarm pengingat bagi generasi muda: berkarya tak butuh menunggu dewasa. Perpustakaan sekolah kini bukan lagi sekadar sirkulasi pinjam-meminjam buku, melainkan episentrum lahirnya kreator muda Bojonegoro yang siap bersuara lantang menembus sekat ruang dan waktu.

Saatnya generasi muda lain bertanya pada diri sendiri: kalau mereka bisa menembus ribuan pembaca lewat goresan pena, kapan giliran karyamu yang unjuk gigi? (AA)