Kegiatan

Gandeng Relima Bojonegoro, Perpustakaan Madinatul ilmi Ajak Anak SMP NU Model Khusuk Berkreasi

Perpustakaan Madinatul Ilmi bersama komunitas Relima Bojonegoro Melalui kolaborasi literasi bertajuk "Mengulas Buku & Jurnaling" gelar giat unik untuk remaja usia tanggung SMP NU Model Sumberrejo, Bojonegoro.

Oleh

Gandeng Relima Bojonegoro, Perpustakaan Madinatul ilmi Ajak Anak SMP NU Model Khusuk Berkreasi

BOJONEGORO - Memilih sekolah menengah pertama berbasis Islam kerap kali menjadi pusaran kebingungan tersendiri bagi para orang tua. Banyak yang terjebak pada pencarian deretan piala atau janji akademis semata, namun luput melihat kriteria yang tak kalah krusial: bagaimana sebuah sekolah mampu membina mental, menjaga kesehatan psikologis, dan merangkul badai emosi anak di masa pubertas.

Keresahan para orang tua tersebut dijawab melalui sebuah pendekatan edukatif yang menyentuh akar permasalahan remaja oleh SMP NU Model Sumberrejo, Bojonegoro. Melalui kolaborasi literasi bertajuk "Mengulas Buku & Jurnaling" bersama komunitas Relima dan Perpustakaan Madinatul Ilmi, sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan berkarakter Islam yang sesungguhnya adalah yang mampu membimbing siswa mengenali diri mereka sendiri.

Pada Jumat (30/10/2026) lalu, sebuah metode tak biasa diterapkan untuk merangkul para siswa. Lewat selembar kertas, anak-anak yang tengah berada dalam fase transisi ini diajarkan untuk merengkuh dan berdamai dengan perasaan mereka sendiri.

Kepala Perpustakaan Madinatul Ilmi Yayasan Walisongo Annahdliyah Sumberrejo, Azis, menyoroti betapa rentannya kondisi psikologis anak di usia tersebut jika tidak difasilitasi dengan wadah berekspresi yang tepat.

"Sering kali, remaja menyimpan banyak hal sendirian. Mulai dari dinamika pertemanan yang rumit, sampai emosi yang naik-turun tanpa tahu harus meluapkannya ke mana," papar Azis.

Terobosan journaling atau menulis jurnal ini nyatanya membawa dampak instan yang memukau. Pemandangan kontras tersaji dengan indah di ruang Perpustakaan Madinatul Ilmi sore itu. Ruangan yang pada awalnya dipenuhi dengan hingar-bingar dan energi meluap-luap khas anak belasan tahun, perlahan bertransformasi menjadi ruang hening yang menenangkan.

Satu per satu kepala mulai menunduk khusyuk. Bukan karena tekanan kedisiplinan yang kaku, melainkan karena mereka tengah tenggelam dalam fokus yang dalam. Tanpa paksaan, tangan-tangan muda itu telaten menuangkan segala isi hati, rentetan unek-unek yang selama ini membebani dada, hingga harapan-harapan masa depan ke atas selembar kertas kosong.

Bagi Anda para orang tua yang masih menimbang ke mana harus menyekolahkan sang buah hati, momen di Perpustakaan Madinatul Ilmi ini seolah mengirimkan pesan yang sangat jelas. SMP NU Model Sumberrejo menawarkan lebih dari sekadar rutinitas belajar-mengajar formal; mereka hadir sebagai rumah kedua yang aman, Islami, dan peka terhadap kesehatan mental, memastikan anak Anda tumbuh cerdas tanpa harus memendam luka batin sendirian. (AZS)