Oleh : Kyai Abdullah Afif, S.Pd.I
Menyambut Maulid Nabi ﷺ: Ketika Kegembiraan Menjadi Bahasa Cinta
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kali Rabiul Awal tiba:
Mengapa kita harus bergembira atas kelahiran Rasulullah Muhammad ﷺ?
Bukankah cukup bagi seorang Muslim untuk mengimani beliau sebagai utusan Allah? Mengapa kelahiran beliau harus dikenang, disyukuri, dirayakan, bahkan diisi dengan shalawat, sedekah, majelis ilmu, dan berbagai amal kebajikan?
Pertanyaan itu layak dijawab. Bukan dengan emosi, tetapi dengan ilmu. Bukan sekadar dengan tradisi, tetapi dengan dalil dan keteladanan.
Sebab, boleh jadi persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya kita bergembira, melainkan pada satu pertanyaan yang lebih mendasar:
Seberapa besar sebenarnya cinta kita kepada Rasulullah ﷺ?
Allah Swt. berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”
(QS. Yunus: 58)
Ayat ini menarik untuk direnungkan.
Allah tidak mengatakan, jangan bergembira. Sebaliknya, Allah memerintahkan manusia untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya.
Para ulama tafsir memberikan penjelasan mengenai makna rahmatullah dalam ayat tersebut. Imam As-Suyuthi rahimahullah, misalnya, termasuk ulama yang mengaitkan rahmat Allah itu dengan kehadiran Rasulullah ﷺ.
Jika Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam, maka kelahiran dan kehadiran beliau tentu bukan peristiwa biasa.
Bagaimana mungkin seorang Muslim mengetahui bahwa Muhammad ﷺ adalah rahmat bagi alam semesta, tetapi hatinya tidak tersentuh oleh kelahiran pembawa rahmat itu?
Di sinilah Maulid seharusnya ditempatkan: bukan sekadar kemeriahan, bukan sekadar dekorasi, bukan sekadar seremonial.
Maulid adalah momentum untuk menghidupkan kembali rasa cinta.
ABU LAHAB PUN BERGEMBIRA
Ada sebuah kisah yang sering disebut para ulama ketika membahas kegembiraan atas kelahiran Rasulullah ﷺ.
Tokohnya justru bukan seorang sahabat.
Bukan pula seorang mukmin.
Ia adalah Abu Lahab.
Seorang paman Nabi ﷺ yang kelak menjadi salah satu penentang paling keras terhadap dakwah beliau. Namanya bahkan diabadikan dalam Al-Qur'an melalui Surah Al-Lahab sebagai peringatan atas kebinasaannya.
Namun terdapat riwayat yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari melalui 'Urwah bin Az-Zubair mengenai keadaan Abu Lahab setelah kematiannya. Dalam riwayat tersebut, Abu Lahab dikisahkan terlihat dalam mimpi oleh keluarganya dalam keadaan yang buruk. Ketika ditanya mengenai keadaannya, ia menyebut bahwa dirinya tidak mendapatkan kebaikan setelah kematiannya, kecuali mendapatkan keringanan siksa pada hari Senin.
Mengapa?
Karena pada hari kelahiran Rasulullah ﷺ, Abu Lahab pernah memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai bentuk kegembiraannya ketika mendengar kabar kelahiran keponakannya tersebut.
Riwayat ini kemudian menjadi perhatian sejumlah ulama dalam pembahasan mengenai keutamaan bergembira atas kelahiran Nabi ﷺ.
Bayangkan.
Seorang yang tidak beriman kepada risalah Nabi.
Seorang yang kelak menjadi musuh dakwah beliau.
Seorang yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an karena penentangannya.
Namun kegembiraan sesaat atas kelahiran Muhammad ﷺ disebut dalam riwayat tersebut sebagai sebab adanya keringanan pada hari Senin.
Di sinilah hati seorang mukmin seharusnya bertanya:
Jika kegembiraan seorang kafir atas kelahiran Nabi ﷺ saja disebut mendapatkan keringanan, bagaimana dengan kegembiraan seorang mukmin yang mencintai beliau, mengimani risalahnya, bershalawat kepadanya, dan berusaha mengikuti sunnahnya?
Tentu, kisah ini bukan alasan untuk menyamakan keadaan seorang kafir dengan seorang mukmin. Justru sebaliknya, ia menjadi bahan renungan tentang betapa agungnya kedudukan Rasulullah ﷺ dan betapa pentingnya rasa cinta kepada beliau.
LALU, APAKAH RASULULLAH ﷺ MENGENANG HARI KELAHIRANNYA?
Perhatikan satu hadis yang sangat masyhur.
Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ ditanya mengenai puasa hari Senin.
Beliau menjawab:
“Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.”
(HR. Muslim)
Perhatikan baik-baik.
Rasulullah ﷺ menyebut hari kelahirannya ketika menjelaskan alasan keutamaan puasa Senin.
Beliau tidak menganggap hari tersebut sebagai hari yang tidak memiliki makna.
Sebaliknya, kelahiran beliau dihubungkan dengan sebuah bentuk ibadah: puasa.
Maka, dari sinilah para ulama mengambil pelajaran bahwa mengingat kelahiran Rasulullah ﷺ dapat diwujudkan dalam bentuk syukur dan ibadah.
Tentu, bentuknya tidak harus seragam.
Ada yang memperbanyak shalawat.
Ada yang bersedekah.
Ada yang membaca sirah Nabi.
Ada yang mengadakan majelis ilmu.
Ada yang memberi makan orang lain.
Ada yang mengajarkan akhlak Nabi kepada anak-anak.
Ada pula yang berpuasa sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ pada hari Senin.
Yang paling penting adalah satu:
Kegembiraan itu tidak berhenti sebagai kegembiraan. Ia harus melahirkan kebaikan.
Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar mengatakan, “Aku cinta Nabi.”
Pertanyaannya:
Apa yang berubah dalam hidup kita setelah mengatakan itu?
MAULID BUKAN SEKADAR ACARA
Inilah bagian yang sering terlupakan.
Jangan sampai Maulid hanya menjadi panggung yang ramai, tetapi hati tetap sepi dari akhlak Nabi.
Jangan sampai shalawat terdengar lantang, tetapi lisan kita masih gemar menyakiti.
Jangan sampai kita sibuk menghias tempat acara, tetapi lupa menghias perilaku.
Jangan sampai kita memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi sunnah beliau justru semakin jauh dari kehidupan kita.
Kalau Maulid membuat kita semakin rajin bershalawat, itu baik.
Kalau Maulid membuat kita semakin gemar bersedekah, itu baik.
Kalau Maulid membuat kita semakin mengenal sirah Nabi, itu baik.
Kalau Maulid membuat kita semakin lembut kepada keluarga, semakin santun kepada tetangga, semakin peduli kepada fakir miskin, dan semakin kuat memegang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, maka di situlah ruh Maulid menemukan maknanya.
Karena cinta kepada Nabi ﷺ harus mempunyai bukti.
“BARANG SIAPA GEMBIRA KARENAKU...”
Ada pula kisah yang dinukil oleh Abu Abdillah bin Abi Muhammad An-Nu'man tentang Syaikh Abu Musa Az-Zarhuni.
Dikisahkan, beliau bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. Dalam mimpi tersebut, ia menyampaikan mengenai perbedaan pandangan sebagian ulama terkait penyelenggaraan walimah dan peringatan Maulid Nabi ﷺ.
Dalam kisah itu, Rasulullah ﷺ menjawab:
مَنْ فَرِحَ بِنَا فَرِحْنَا بِهِ
“Barang siapa bergembira karena kami, maka kami pun bergembira karenanya.”
Kisah mimpi tentu tidak dapat dijadikan dalil syariat yang berdiri sendiri. Namun, makna yang terkandung di dalamnya dapat menjadi renungan, selama tetap ditempatkan dalam koridor dalil-dalil syar'i yang lebih kuat.
Dan inti pesannya sangat sederhana:
Cinta akan selalu mencari cara untuk menampakkan dirinya.
Orang yang mencintai akan senang menyebut nama yang dicintainya.
Orang yang mencintai akan senang mendengar kisahnya.
Orang yang mencintai akan senang mengingatnya.
Dan orang yang benar-benar mencintai, pada akhirnya akan berusaha meneladani perilakunya.
Maka, Maulid bukan semata-mata persoalan acara.
Maulid adalah persoalan hati.
JANGAN HANYA MERAYAKAN KELAHIRANNYA, HIDUPKAN PULA AJARANNYA
Mungkin inilah pertanyaan paling penting untuk kita bawa pulang dari Rabiul Awal:
Apakah kita hanya bergembira karena Nabi ﷺ dilahirkan, atau kita juga berusaha menjadi umat yang membuat beliau “bahagia” dengan amal kita?
Sebab kecintaan yang paling indah bukanlah cinta yang berhenti pada kata-kata.
Cinta yang sejati adalah cinta yang melahirkan keteladanan.
Maka mari kita sambut Maulid Nabi ﷺ dengan kegembiraan.
Namun jangan berhenti pada kegembiraan.
Sambut dengan shalawat.
Sambut dengan sedekah.
Sambut dengan ilmu.
Sambut dengan memperbaiki akhlak.
Sambut dengan menghidupkan sunnah.
Dan yang paling penting:
sambut dengan tekad untuk menjadi umat yang lebih layak mengaku sebagai pecinta Rasulullah ﷺ.
Sebab bisa jadi, yang selama ini kita perlukan bukan sekadar memperbanyak acara Maulid.
Tetapi memperbanyak bukti bahwa kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad ﷺ.
MUTIARA HIKMAH
“Jika kegembiraan seorang paman yang mengingkari risalah keponakannya saja disebut dalam riwayat sebagai sebab mendapatkan keringanan, maka renungkanlah betapa besar anugerah bagi seorang mukmin yang bergembira atas kelahiran Rasulullah ﷺ dengan iman, cinta, syukur, dan keteladanan.”
DOA
Ya Allah, jadikanlah kegembiraan kami atas kelahiran Nabi-Mu Muhammad ﷺ bukan sekadar kegembiraan yang berlalu bersama Rabiul Awal.
Jadikanlah ia kegembiraan yang menumbuhkan cinta.
Jadikanlah cinta itu melahirkan shalawat.
Jadikanlah shalawat itu menghidupkan sunnah.
Dan jadikanlah sunnah itu membentuk akhlak serta kehidupan kami.
Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama Rasulullah ﷺ di dunia melalui kecintaan dan keteladanan, dan di akhirat melalui syafaat serta rahmat-MU.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
